Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari

Loading...
Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari - Hallo sahabat infokini DK, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari
link : Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari

Baca juga


Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari


Perjalanan hidup Karmiyati penuh perjuangan. Dia pernah makan nasi aking saat bertani dan kesulitan beli pupuk. Berjualan sapi lidi hingga sukses bisnis kuliner. Namun akhirnya kolaps akibat terjerat judi. Meski begitu tak pernah ia berniat jual tanah.

Tempat tinggalnya berada di gang sempit, barat Pasar Pamenang, Dusun Plongko, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare. Mobil tak bisa masuk hingga ke depan rumah. Ketika Jawa Pos Radar Kediri bertandang, kondisi hunian sederhana itu sedikit berantakan dan kotor.

Beberapa daun salam hingga tumpukan koran bekas tampak menggunung di ruang tamu. Ruangannya agak gelap dan pengap. Walaupun demikian, pemiliknya baru saja mewakafkan tanah senilai Rp 2,5 miliar, Minggu kemarin (27/8). Tanahnya diikhlaskan untuk pembangunan sekolah.

Pewakaf yang sehari-harinya bekerja menjual daun di Pasar Pamenang Pare ini adalah Karmiyati. Usianya 72 tahun. Dia mewakafkan tanahnya seluas 50 ru atau sekitar 700 meter persegi. Lokasinya di Jl Kemuning, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare.

Nilai jual tanah di kawasan Kampung Inggris itu sudah mencapai Rp 50 juta per ru-nya. Itu berarti lebih dari Rp 3,5 juta per meternya. Namun Karmiyati ikhlas tanahnya digunakan untuk pendirian Tahfidz School atau sekolah hafalan Alquran. “Saya ikhlas Mas. Saya wakafkan atas nama mbah saya sekeluarga,” terangnya.

Mengapa diwakafkan? Apa tak sayang dengan tanah yang harganya sudah selangit itu? Dengan polos, Karmiyati mengaku, sudah tidak ada yang diinginkan lagi. Semua keinginannya sudah terpenuhi. Dia hanya ingin didoakan sehat bersama Islam Susanto, suaminya. Pasutri ini hendak mendaftar haji pada November nanti.

“Alhamdulillah anak-anak juga sudah mentas (mandiri, Red) semua. Lalu mau buat apa lagi tanah itu nanti kalau tidak saya wakafkan,” papar nenek yang punya dua anak angkat ini.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Karmiyati dan suami merasa sudah cukup dari hasil berjualan daun di Pasar Pamenang. Daun yang dijualnya beragam. Ada daun pisang, pandan, hingga salam. Dia juga menjual koran bekas. Setiap pagi Karmiyati dan suami berjualan mulai pukul 03.00 hingga 10.00.  “Dari jualan setiap hari di pasar sedikit-sedikit masih bisa menabung Rp 100 ribu minimal,” ungkap perempuan kelahiran 1944 ini.

Tanah Karmiyati adalah warisan dari Tukilah, ibunya. Dia anak tunggal. Dahulu Tukilah juga mendapat bagian dari ketiga saudaranya. Itu dari orang tua mereka. Yaitu Ngarinem dan Khaminem. “Itu tanah gogolan Mas. Jadi Mbah saya dulu dapat upah jaga gardu zaman Belanda dan dapat tanah tersebut,” terangnya.

Karmiyati mendapat warisan ibunya pada 1985. Kendati berhak penuh atas warisan tersebut, ia tak pernah ada niat menjual. Padahal hidupnya saat itu sangat keras. “Saat susah ya tidak punya apa-apa Mas. Tapi entah kenapa tidak pernah kepikiran menjual tanah itu,” ujarnya.

Padahal, ketika hidup susah bersama suaminya, Karmiyati pernah hanya makan nasi aking lauk sambal. Karena tak punya uang, sampai-sampai suami yang menggarap tanahnya tak mampu beli pupuk. Karmiyati pun menggadaikan piring demi uang Rp 30 ribu. Nahasnya, uang gadai itu hilang sesampai di rumah. “Kayaknya jatuh dari sepeda di perjalanan pulang. Akhirnya tetap tidak bisa beli pupuk,” urainya.

Sebelum berjualan daun di pasar, Karmiyati pernah menjual sapu lidi buatan sendiri. Dia kulakan blarak (daun kelapa kering) dengan jalan kaki. Ketika capek, Karmiyati istirahat di Sungai Serinjing (sekitar Desa Gedangsewu, Pare). “Saat mandi di sana, saya malah terseret arus sungai dan hampir hanyut. Untung ditolong warga,” kenangnya.

Pada tahun 1990-an, Karmiyati juga pernah berjualan rujak ulek di depan rumahnya. Karena enak, warungnya jadi jujukan pencinta kuliner. Ekonomi keluarganya pun naik drastis. “Laris sekali Mas, langganannya sekolah dulu. Untungnya banyak,” ujarnya.

Sayangnya, pasutri ini sempat terjerumus dalam perjudian. Itulah yang menyebabkan bisnis kulinernya bangkrut. “Kalau dihitung-hitung kerugian kami saat masih ‘gila nomer’ (judi toto gelap) dulu Mas, tiga mobil sampai terjual,” terangnya.

Meski menghadapi masa-masa sulit, Karmiyati tetap mempertahankan tanah warisannya. Padahal, jika mau dia bisa saja menjualnya dan hidup enak. “Tapi tetap tidak terpikirkan Mas. Entah kenapa saya tak punya niat menjual saat susah-susahnya hidup dulu,” paparnya.

Hingga kini tanah telah diwakafkan kepada Yayasan Ahad Pagi atas nama mbahnya. Karmiyati berharap, tanahnya bermanfaat bagi sekolah hafalan Alquran tersebut. Sehingga ia dan keluarganya bisa mendapat pahala Allah atas tanah wakafnya. “Insya Allah saya ikhlas. Semoga bermanfaat,” tuturnya.

Loading...


Demikianlah Artikel Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari

Sekianlah artikel Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari dengan alamat link https://www.infokini.xyz/2020/10/wakafkan-tanah-warisan-seharga-25.html

0 Response to "Wakafkan Tanah Warisan Seharga 2,5 Miliar, Nenek Ini Malah Jualan Daun Untuk Hidup Sehari-hari"

Posting Komentar

Loading...